Late vs. Me


Telat is my middle name.

Gw lupa bagaimana awalnya “telat” menjadi suatu bagian diri gw yg lama melekat dan tak kunjung insyaf. Lupa bagaimana bisa gw membudidayakan sikap ini sampai luruh menyatu dengan jiwa raga padahal dulu gw selalu benci dengan orang2 sejenis gw sekarang. Tapi mungkin tak ada gunanya juga bertanya tentang awal atau kenapa-nya, coZ telat adalah suatu sikap negatif, merugikan orang lain, merusak citra baik diri sendiri, membuang2 waktu, membuat HRD tersenyum pait, membuat bos menghela napas minta dikuatkan iman, membuat gw selalu stress di jalan krn ngitung waktu tersisa, In a short word ga ada efek positif dari telat. Jadi sikap ini kudu dijauh jauhi jauh jauh sejauh jauhnya.

Tentu saja kesadaran gw tentang How negative of the late habits is bukan baru tadi sore. Ude lama! Tapi bebel bgt emang dasar gw.. Temen2 kantor gw dulu ampe bosen mendengar kisah perlombaan gw vs. Mesin Absensi yang tentu saja lebih sering dimenangkan mesin tak berkeprikaryawanan itu.

Setelah sadar ga bakal menang dengan mesin yang tidak pro karyawan, gw berkat campur tangan Yang Maha Kuasa yang miris melihat kehidupan hambanya selalu berkutat dengan macet dan waktu, akhirnya bisa bekerja di tempat yg jauhnya cuma 15 menit dari rumah, dgn ongkos bolakbalik cuma 8rb. Bahkan gw bisa lebih hemat jadi 4rb bolak balik dengan sedikit (bgt) olah raga jalan kaki.

Kiniiiii….
Sepertinya hidup berpihak kepada ku,
tak akan ada lagi dag dig dug serrr di jalan bolakbalik liat jam tangan berharap 1 menit itu lebih dari 60 detik……

Tapiiii….
Ternyata itu cuma semingguuu…

Then I’m back to become Me again, Me like I always known. Damn! Betapa tak tahu dirinya aku ini jadi anak baru, Betapa tak tahu malunya diriku dengan اللّهُ maha pengabul doa, termasuk doa minta kantor di kebon jeruk with a bigger salary. Ternyata benar kata temen2 kntr dulu, mo kantor gw di sebelah rumah kek klo emang ga mo insyaf ya telat2 juga! Telat itu bukan karena alasan, tapi karakter.
Uuuugghhhh… I start to hate my self.

Maafkan hamba mu ini ya اللّهُ yang selalu telat bersyukur (eh..emang karakter kah?)… Mungkin karena selalu lupa syukur nikmat اللّهُ ini karakter yang merugi ini tak kunjung bisa diperbaiki. Hayuk lah kita bermalu diri dihadapan اللّهُ, karena tak akan cukup kita hitung doa2 dan rizki kita yang dikabulkanNya, hayuk lah kita pantaskan diri ini untuk rizki dan ridhoNya.

Malu aku malu… Bukan untuk semut merah tapi karena KebesaranNya.. (Ciiee bikin puisi! Cuih ah)

Entah kapan gw akan bener2 berubah, semoga saja tidak huumm…telat..

Mohon doa dan restu dari semuanya🙂

‎​‎​آمِّينَ​ آمِّينَ يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s